“One
of the most best way to educate our heart is to look at our interaction with
other people because our relationship with others are fundamentally a
reflection with ourselves” (Stephen Covey).
Konsep komitmen organisasi telah menjadi isu
penelitian di banyak negara dalam 60 tahun terakhir. Konsep ini diperkenalkan
oleh Whyte pada kisaran tahun 1956.
Berakar dari paradigma teori
pertukaran sosial (Social Exchange
Theory/SET) dalam memahami
perilaku organisasi, penelahaan teori
tersebut sudah berlangsung sejak tahun 1920-an (Cropanzano dan Mitchel,
2005). Teori tersebut meyakini bahwa pertukaran sosial merupakan interaksi yang
berkelanjutan yang menciptakan kewajiban (Emerson, 1976) dan saling
ketergantungan antar pihak yang berinteraksi (Blau, 1964). Oleh karenanya
pendekatan pemahaman terhadap akar permasalahan dalam teori pertukaran sosial (SET)
ditentukan oleh penelahaan multi disiplin. Antara lain disiplin sosiologi,
antropologi, and psikologi sosial. Sehingga dampak dari pertukaran sosial ini
antara lain adalah kekuatan hubungan relasional yang berkualitas (Cropanzano
dan Mitchel, 2005). Sejalan dengan perkembangan kebutuhan dan pengaru dari
teori tersebut, maka memunculkan berbagai teori terkait, diantaranya teori
pertukaran relasional (the exchange
relationship theory).
Teori
pertukaran relasional memandang terjadi pertukaran relasional dan kepentingan
antara organisasi sebagai suatu sistem
dan para anggota organisasi, dalam hal ini karyawan. Teori ini dikemukakan oleh
March dan Simon pada tahun 1958 (Angle dan Perry, 1981).
Teori ini meyakini
bahwa terdapat pertukaran yang terjadi antara seseorang dengan orang lain
adalah berlandasakan pada imbalan dan pengorbanan yang dilakukan. Dalam
kontekstual organisasi, teori pertukaran
relasional menekankan pada pertukaran yang terkait dengan organisasi dan
kontribusi individu karyawan. Dalam hal ini adalah keputusan karyawan untuk
berproduksi dan keputusan karyawan untuk berpartisipasi (Angle dan Pery, 1981).
Makna dari pernyataan ini adalah pertukaran yang dipersyaratkan oleh
organisasi, dimaknai oleh karyawan dengan melakukan kegiatan berproduksi secara
ketentuan orgnisasi ataukah berpartisipasi dengan kesadaran karyawan untuk
melakukan hal terbaik bagi organisasi.
Pemikiran tersebut yang kemudian mendasari munculnya teori komitmen
organisasi.
Komitmen organisasi telah menjadi sebuah bahasan pada berbagai literatur
seperti literatur sektor publik, (non-profit sector), maupun sektor swasta
yang umumnya adalah berorientasi profit (profit orientation). Ini tercantum dalam berbagai literatur,
misalnya literatur psikologi industri, organisasi (Cohen, 2003); literatur
pendidikan, teologi, kesehatan, perhotelan, pekerja sosial dan kedokteran
(Boehman, 2006; Maxwell dan Steele, 2003; Savery dan Syme, 1996; Trimble, 2006
dalam Kalbers dan Cenker, 2007). Ini menunjukkan bahwa implementasi pembahasan
teori komitmen bisa dikaitkan ke berbagai literatur dan domain disiplin
ilmu.
Kajian perilaku organisasi senantiasa mengaitkan kesesuian dan relevansi
sikap karyawan dengan perilaku organisasi (Hrebiniak dan Aluto, 1972; Buchanan,
1974; Steers, 1977). Dengan asumsi bahwa komitmen merupakan atribut perilaku
yang stabil (Porter et.al., 1974; Kock dan Steers, 1978). Yakni sikap yang mengaitkan psikologis karyawan, atau komitmen afektif yang
terbentuk dalam hubungannya
dengan permasalahan dan loyalitasnya dengan organisasi.
Pada awalnya, konsep komitmen organisasi berfokus pada konsep komitmen
itu sendiri, didasarkan pada pendekatan sikap, yang menunjuk pada permasalahan
dan loyalitas (Porter, Steers, Mowday, & Boulian,
1974).
Menurut (Porter et al., 1974) pendekatan sikap mengacu pada keterikatan psikologis atau komitmen
afektif yang dibentuk oleh seorang karyawan dalam hubungannya dengan
permasalahan dan loyalitasnya dengan organisasi. Pasangan fenomenal yang
menjadi ikon komitmen, yakni Steers dan Porter (1983) menjelaskan bahwa komitmen organisasi sebagai
"loyalitas terhadap organisasi”. Ditandai dengan niat untuk tetap berada
di dalamnya; melakukan identifikasi dengan nilai-nilai dan tujuan organisasi.
Tak kalah pentingnya adalah
kemauan untuk menggunakan tenaga ekstra atas nama
organisasi. Individu mempertimbangkan sejauh mana nilai-nilai dan tujuan mereka
berhubungan dengan organisasi sebagai bagian dari komitmen organisasi, oleh
karena itu dianggap sebagai hubungan diantara setiap karyawan dan organisasi.
Dalam perkembangannya penelitian dan pengkajian komitmen organisasi
didekatkan dengan berbagai pendekatan yakni:
1)
Pendekatan Sikap (attitudinal approach)
Steers dan Porter (1983) menyatakan bahwa pendekatan sikap (attitudinal approach) sebagai yaitu
komitmen yang merujuk pada orientasi positif individu karyawan dengan terhadap organisasinya.
Pendekatan ini lebih menekankan pada
loyalitas karyawan. Yakni kondisi
dimana karyawan bersedia memfasilitasi pencapaian tujuan organisasi. Menurut pendekatan ini, “commitment is viewed as an attitude of attachment to the organization,
which leads to particular job-related behaviors” (Muthuveloo dan Rose,
2005). Komitmen dipandang sebagai suatu
sikap keterikatan kepada organisasi, yang berperan penting pada pekerjaan
tertentu dan perilaku yang terkait. Sebagai contoh, pegawai yang memiliki
komitmen tinggi, memiliki tingkat
abesnsi yang rendah, dan tingkat turn
over, atau kemungkinan untuk meninggalkan organisasi yang lebih
kecil. Pendapat ini sudah dituangkan ke dalam penelitian yang dilakukan oleh
Mowday, Poter dan Steers, pada tahuan 1982), yang kemudian dipertajam kembali
pada tahun 1983 oleh Steers dan Porter.
Lebih jelasnya, komitmen
berdasarkan pendapat mereka terdefinisi
sebagai berikut:
a) Keinginan yang kuat untuk tetap sebagai anggota organisasi tertentu;
b) Keinginan untuk berusaha keras sesuai keinginan organisasi;
c) Keyakinan tertentu, dan penerimaan nilai dan tujuan organisasi.”
Asumsi yang mendasari ketiga definisi tersebut, antara lain bahwa karyawan memiliki keinginan dan sikap
yang positif terhadap organisasi dan senantiasa
memiliki komitmen dan rasa memiliki yang tinggi, untuk berusaha sebaik
mungkin bagi efektivitas dan optimalisasi pencapaian tujuan organisasi. Usaha
yang sebaik mungkin tersebut tentunya menampilkan tingkah laku yang sesuai
dengan tujuan organisasi.
2.
Pendekatan Perilaku (behavioral approach)
Pendekatan perilaku (behavioral
approach) menitikberatkan pada pandangan bahwa investasi karyawan akan
menyebabkan karyawan tersebut terikat pada organisasi. Komitmen organisasi
didefenisikan “profit associated with
continued participation and a cost' associated with leaving”, (Kanter,
dalam Sulaiman Iles, 2000). Dalam
pandangan ini, karyawan akan berkomitmen dengan berlandasakan pada kalkulasi
penghitungan efisiensi biaya untuk
berkomitmen. Jangan samapi biaya untuk meninggalkan perusahaan menjadi lebih
mahal. (Muchinsky, 1993) menyatakan
bahwa seseorang yang terlalu berkomitmen pada organisasi akan cenderung
mengalami stagnasi dalam kariernya serta cenderung berkurang pengembangan
dirinya (self development); dan bila
komitmen mencerminkan identifikasi dan keterlibatan dalam organisasi, maka
organisasi akan mendapat keuntungan dengan berkurangnya turnover serta prestasi yang lebih baik.
3)
Pendekatan Multidimensi (the multidimensional
approach).
Pendekatan multidimensi (the
multidimensional approach) yaitu komitmen dipandang dalam berbagai dimensi
ataupun sumber. Komitmen organisasional secara tradisional dipandang sebagai
konstruk uni-dimensi atau satu dimensi (Porter et al., 1974), di mana komitmen organisasi didefinisikan sebagai
rasa identifikasi (kepercayaan terhadap nilai-nilai organisasi), keterlibatan
(kesediaan untuk berusaha sebaik mungkin demi kepentingan organisasi) dan
loyalitas (keinginan untuk tetap menjadi anggota organisasi yang bersangkutan) yang
dinyatakan oleh seorang pegawai terhadap organisasinya. Terdapat banyak bukti
yang menunjukkan bahwa individu mengembangkan komitmen pada organisasi tertentu
melalui berbagai dimensi atau berbagai sumber.
Meyer dan Allen (1984), menganggap komitmen organisasional sebagai
konsep yang multidimensional. Pada awalnya mereka melihat komitmen organisasi
sebagai dua dimensi yaitu: Affective commitment berkaitan dengan adanya
keinginan untuk terikat pada organisasi atau keterikatan emosional karyawan,
identifikasi, dan keterlibatan dalam organisasi terjadi apabila karyawan ingin
menjadi bagian dari organisasi karena adanya ikatan emosional (emotional attachment) atau merasa
mempunyai nilai sama dengan organisasi; dan Continuance
commitment, mengarah kepada perhitungan
untung dan rugi dalam diri karyawan sehubungan dengan keinginan untuk tetap
mempertahankan atau meningkatkan pekerjaannya. Artinya, komitmen kerja dianggap
sebagai persepsi harga yang harus dibayar jika karyawan meninggalkan
pekerjaannya. Komitmen ini menyebabkan karyawan bertahan pada suatu pekerjaan
karena karyawan membutuhkannya.
Kedua istilah tersebut digunakan oleh Meyer dan Allen dengan memadukan
komitmen organisasional oleh Porter, et. al (1974) dan Becker (1960) dalam
Kalbers dan Cenker (2007). Porter menggambarkan komitmen sebagai kekuatan
identifikasi oleh individual serta keterikatannya dengan organisasi. Komitmen
inilah yang biasanya diukur dengan Organizational
Commitment Questionnaire (OCQ). Maka diketahui bahwa komitmen affective umumnya diidentikan dengan
komitmen organisasional. Sedangkan komitmen digambarkan sebagai suatu kecenderungan untuk ikut
serta dalam aktivitas yang konsisten karena biaya-biaya yang dikeluarkan akan
hilang jika ia meninggalkan organisasi tersebut. Komitmen ini diidentikkan
dengan komitmen Continuance. Alasan-alasan
inilah yang akhirnya mendorong munculnya istilah komitmen affective dan komitmen Continuance.
Meyer dan Allen (1984) mengembangkan komitmen affective berdasarkan pada konsep individual Organizational goal congruence. Karyawan yang memiliki komitmen affective yang kuat akan tinggal dalam
organisasi karena mereka menginginkannya (want
to). Keinginan ini timbul berdasarkan derajat identifikasi mereka terhadap
organisasi dan kesediaan mereka untuk membantu pencapaian tujuan organisasi
(Hacket et al, 1994 dalam Kalbers dan
Cenker, 2007).
Komitmen affective
mencerminkan kekuatan kecenderungan individual untuk tetap bekerja dalam
organisasi karena individu tersebut setuju dengan organisasi dan senang bekerja
pada organisasi tersebut. Komitmen affective
melihat komitmen organisasi sebagai suatu bentuk ekspresi emosional individual
terhadap organisasi tempatnya bekerja. Karyawan yang memiliki komitmen Continuance yang tinggi akan tinggal
dalam organisasi karena mereka membutuhkan (need
to). Dengan demikian individu
tetap bekerja dalam organisasi karena mereka mengakumulasi manfaat yang lebih
jelas jika terus berada dalam organisasi, sehingga akan mencegah mereka untuk
mencari alternatif pekerjaan lain (Meyer dan Allen, 1984).
Komitmen Continuance
mencerminkan kekuatan kecenderungan individual untuk tetap bekerja dalam
organisasi karena tidak ada alternatif pekerjaan yang lain. Komitmen Continuance muncul dari suatu perspektif
dimana individu dipandang tetap berada dalam organisasi karena mengakumulasikan
reward ekstrinsik dan manfaat yang dapat diperoleh. Rewards ekstrinsik adalah pemberian reward dan insentif, misalnya upah dan gaji, bonus, komisi dan
pembagian laba yang biasa disebut reward
ekstrinsik. Side bets potensial
(potensi mencari pekerjaan lain) yang dapat menghasilkan level komitmen continuance yang tinggi adalah termasuk waktu dan
usaha yang dihabiskan untuk memperoleh non
transferable skill dan kurangnya keuntungan yang menarik atau hak-hak
istimewa berdasarkan senioritas.
Penelitian lebih lanjut, Meyer dan Allen (1990) menambahkan dimensi
ketiga, yaitu komitmen normative
(normatif). Meyer dan Allen (1990) mendefinisikan komitmen normatif sebagai
"suatu perasaan wajib dari pegawai untuk untuk tetap tinggal dalam suatu
organisasi karena adanya perasaan hutang budi pada organisasi".
Jadi berdasarkan pendekatan mulitidimensional dari Meyer dan Allen
(1997), ada tiga komponen komitmen organisasi, sehingga pegawai memilih menetap
atau meninggalkan organisasi berdasarkan norma yang dimilikinya
Hal yang umum dari ketiga bentuk komitmen tersebut adalah pandangan
bahwa komitmen merupakan kondisi psikologis yang mencirikan hubungan antara
karyawan dengan organisasi dan memiliki implikasi bagi keputusan individu untuk
tetap berada atau meninggalkan organisasi.
Lebih lanjut, Meyer dan Herscovitch (dalam Coetzee, 2005), menggambarkan
ketiga bentuk komitmen organisasional dan faktor-faktor yang mendasarinya.
Setiap karyawan memiliki dasar dan tingkah laku yang berbeda berdasarkan
komitmen organisasi yang dimilikinya. Karyawan dengan affective commitment yang
tinggi memiliki kedekatan emosional yang erat terhadap organisasi. Hal ini
berarti bahwa individu tersebut akan memiliki motivasi dan keinginan untuk
berkontribusi secara berarti terhadap organisasi.
Pegawai dengan Continuance commitment yang tinggi akan bertahan dalam organisasi, bukan karena alasan
emosional, tapi karena adanya kesadaran dalam individu tersebut akan kerugian
besar yang dialami jika meninggalkan organisasi. Pegawai terpaksa menjadi
anggota akan menghindari kerugian finansial dan kerugian lain, sehingga
memungkinkannya melakukan usaha yang tidak maksimal. Berkaitan dengan hal ini,
maka individu tersebut kurang/tidak dapat diharapkan untuk memiliki keinginan
yang kuat untuk berkontribusi secara berarti pada organisasi.
Sementara itu, komponen normatif yang berkembang
sebagai hasil dari pengalaman sosialisasi, tergantung dari sejauh apa perasaan
kewajiban yang dimiliki pegawai. Komitmen normatif didasarkan pada pendekatan obligation, di mana komitmen sebagai
tekanan normatif yang telah diinternalisasikan agar individu bertindak sesuai
dengan tujuan dan keinginan organisasi. Komponen normatif menimbulkan perasaan
kewajiban pada pegawai untuk memberi balasan atas apa yang telah diterimanya
dari organisasi. Pegawai dengan normative
commitment yang tinggi akan tetap
bertahan dalam organisasi karena merasa adanya suatu kewajiban atau tugas yang
memang sudah sepantasnya dilakukan atas benefit yang telah diberikan organisasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar