“Perfectionism
is a dangerous state of mind in an imperfect world. The best way is to forget
doubts and set about the task in hand. If you are doing your best, you will not
have time to worry about failure” (Robert Silliman Hillyer)
A.
Definisi Komitmen Organisasi
Komitmen Organisasional merupakan salah satu topik yang akan selalu
menjadi tinjauan baik bagi pihak manajemen dalam sebuah organisasi maupun bagi
para peneliti yang khususnya berfokus pada perilaku manusia. Komitmen
Organisasional menjadi penting khususnya bagi organisasi yang ada saat ini
dikarenakan dengan melihat sejauh mana keberpihakan seorang karyawan terhadap
organisasi, dan sejauh mana karyawan tersebut berniat untuk memelihara
keanggotaannya terhadap organisasi maka dapat diukur pula sebaik apa komitmen
seorang karyawan terhadap organisasinya.
Komitmen organisasi dapat didefenisikan dengan dua cara yang amat
berbeda. Cara pertama diajukan oleh Porter, Steers, Mowday, dan Boulian (1974);
Mowday, Porter, dan Steers (1982) dan cara yang kedua diajukan oleh Becker
(1960). Menurut Porter, dkk (1974) komitmen adalah kuatnya pengenalan dan
keterlibatan seseorang dalam suatu organisasi tertentu. Atau komitmen
organisasional sebagai derajat seberapa jauh karyawan mengidentifikasikan dirinya
dengan organisasi dan keterlibatannya dalam organisasi tertentu Mowday, dkk
(1982). Di lain pihak, Becker (1960) menggambarkan komitmen sebagai
kecenderungan untuk terikat dalam garis kegiatan yang konsisten karena
menganggap adanya biaya pelaksanaan kegiatan yang lain (berhenti bekerja).
Beberapa ahli lain menyatakan pendapatnya tentang Komitmen Organisasi,
antara lain sebagai berikut:
1) Mowday, et al
(1979)
Komitmen organisasi menunjukkan keyakinan dan dukungan
yang kuat terhadap nilai dan sasaran (goal)
yang ingin dicapai oleh organisasi.
2) Wiener (1982)
“Komitmen organisasi didefinisikan sebagai dorongan
dari dalam diri individu untuk berbuat sesuatu agar dapat menunjang
keberhasilan organisasi sesuai dengan tujuan dan lebih mengutamakan
kepentingan organisasi”
3) William and Hazer (1986)
“Komitmen organisasional merupakan respon afektif pada organisasi secara
menyeluruh, yang kemudian menunjukkan suatu respon afektif pada aspek khusus
pekerjaan”.
4) O’reilly, C. and J. Chatman (1986)
“Komitmen adalah kelekatan secara psikologis yang dirasakan oleh
seseorang terhadap organisasinya, dan hal ini akan merefleksikan derajat dimana
individu menginternalisasi atau mengadopsi karakteristik atau perspektif dari
organisasinya”.
5) Steers (1988)
“Komitmen organisasi menjelaskan kekuatan relatif dari sebuah
identifikasi individu dengan keterlibatan dalam sebuah organisasi. Komitmen
menghadirkan sesuatu diluar loyalitas belaka terhadap suatu organisasi.
disamping itu, hal ini meliputi suatu hubungan yang aktif dengan organisasi
dimana individu bersedia untuk memberikan sesuatu dari diri mereka untuk
membantu keberhasilan dan kemakmuran organisasi”.
6) Welsch dan La Van, dalam (Davis dan Newstrom, 1995)
“Komitmen pada perusahaan adalah sebuah dimensi perilaku yang penting dan
dapat digunakan untuk menilai keterikatan karyawan pada perusahaan”.
7) Davis dan Newstrom (1995)
“Komitmen terhadap perusahaan adalah tingkat kemauan karyawan untuk
mengidentifikasikan dirinya pada perusahaan, dan untuk keinginannya melanjutkan
partisipasi secara aktif dalam perusahaan tersebut”. Komitmen Organisasional
dapat juga dikatakan sebagai loyalitas karyawan, yang merupakan sebuah derajat
yang mana seorang karyawan mengidentifikasikan diri terhadap organisasi dan
ingin untuk melanjutkan berpartisipasi secara aktif dalam organisasi tersebut.
Hal ini juga dapat untuk mengukur keinginan karyawan untuk tetap bertahan di
masa yang akan datang, dan kecenderungan positif yang muncul dari karyawan
adalah catatan kehadiran yang baik, ketaatan pada kebijakan organisasi, dan
menurunnya tingkat perputaran karyawan.
8) Meyer dan Allen (1997)
“Komitmen dalam berorganisasi sebagai suatu konstruk psikologis yang
merupakan karakteristik hubungan anggota organisasi dengan organisasinya dan
memiliki implikasi terhadap keputusan individu untuk melanjutkan keanggotaannya
dalam berorganisasi”.
Berdasarkan definisi tersebut anggota yang memiliki komitmen terhadap
organisasinya akan lebih dapat bertahan sebagai bagian dari organisasi
dibandingkan anggota yang tidak memiliki komitmen terhadap organisasi.
9) Durkin (1999)
Bahwa komitmen organisasional merupakan perasaan yang kuat dan erat dari
seseorang terhadap tujuan dan nilai suatu organisasi dalam hubungannya dengan
peran mereka terhadap upaya pencapaian tujuan dan nilai-nilai tersebut
10) Spector (2000)
“Komitmen organisasi menggambarkan sejauh mana individu
mengidentifikasikan dirinya dan dilibatkan dengan organisasinya dan tidak ingin
meninggalkan organisasinya”.
11) Barnes (2001)
“Komitmen adalah suatu keadaan psikologis yang secara global mewakili
pengalaman ketergantungan pada suatu hubungan atau relationship”. Relationship
secara khusus menjelaskan suatu hubungan jangka
panjang antara perusahaan dengan pelanggan).
12) Miller dan Lee (2001)
“Komitmen organisasi
dikarakteristikkan oleh penerimaan anggota pada tujuan organisasi dan kesediaan
mereka untuk meningkatkan usaha saat bekerja”
13) Mowday, et al., (Golembiewski, 2001)), komitmen organisasi adalah sebuah konsep kompleks yang mencakup
komponen perilaku serta sikap. Termasuk sejauh mana para pekerja menggabungkan nilai-nilai
organisasi, serta niat mereka untuk tetap menjadi bagian dari organisasi.
14) Greenberg & Baron (2003)
“Komitmen organisasi merupakan sejauh mana seorang individu
mengidentifikasi dan terlibat dengan organisasinya atau tidak bersedia untuk
meninggalkannya”.
15) Grusky (1966) dalam Chew, Girardi and Entrakin (2005)
“Komitmen adalah keyakinan yang mencerminkan kekuatan dari keterikatan
seseorang terhadap organisasi”.
16) Robbins & Judge (2007)
“Komitmen organisasi didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana seorang
karyawan memihak organisasi tertentu serta tujuan-tujuan dan keinginannya untuk
mempertahankan keanggotaan dalam organisasi tersebut”.
17) Cohen (2007)
“Komitmen adalah kekuatan yang mengikat individu untuk
melakukan suatu aksi untuk menuju satu atau beberapa tujuan”.
18) John R. Schermerhorn (2007)
“Komitmen organisasi adalah tingkat loyalitas individu terhadap
organisasi. Individu dengan komitmen organisasi yang tinggi akan bangga
menganggap diri sebagai anggota organisasi”.
19) John A Wagner & Hollenbeck (2010)
“Komitmen organisasi adalah sejauh mana orang mengidentifikasi dirinya
dengan organisasi yang mempekerjakan mereka. Ini menyiratkan kesediaan dari
pihak karyawan untuk mengajukan upaya substansial atas nama organisasi dan atau
niatnya untuk tinggal dengan organisasi untuk waktu yang lama”.
20) Moorhead dan Griffin (2013)
“Komitmen organisasi adalah
identifikasi dan ikatan seseorang pada sebuah organisasi”.
Seseorang yang sangat berkomitmen, akan melihat dirinya sebagai anggota
sejati perusahaan, mengabaikan minimnya ketidakpuasan, dan melihat dirinya
sebagai anggota organisasi. Sebaliknya, orang yang kurang berkomitmen lebih
cenderung melihat dirinya sebagai orang luar, lebih mengekspresikan
ketidakpuasan, dan tidak melihat dirinya sebagai anggota organisasi dalam
jangka waktu yang panjang (Michael Riketta; (Griffin & Moorhead, 2014).
21) Robbins & Judge (2014)
“Komitmen adalah tingkat di
mana seseorang pekerja mengidentifikasi sebuah organisasi, tujuan dan
harapannya untuk tetap menjadi anggota”.
22) Porter dan Minner dalam Kusumaputri (2015)
Komitmen organisasi sebagai keterikatan (attachment) dengan organisasi
dikarakteristikkan melalui kehendak untuk tetap bertahan; identikasi dengan
nilai-nilai dan tujuan organisasi; serta kesediaan untuk berusaha lebih dalam perilakunya
Dari beberapa pengertian komitmen organisasi di atas dapat disimpulkan
bahwa komitmen organisasi adalah “sikap loyalitas karyawan terhadap organisasi,
dengan cara tetap bertahan dalam organisasi, membantu mencapai tujuan
organisasi dan tidak memiliki keinginan untuk meninggalkan organisasi dengan
alasan apapun”.
Porter,, et al (Armstrong, 2006), komitmen mengacu pada keterikatan dan loyalitas. Ini adalah kekuatan
relatif dengan identifikasi individu dari dan keterlibatan dalam sebuah
organisasi tertentu. Ini terdiri dari tiga faktor:
1. Keinginan yang kuat untuk tetap menjadi anggota organisasi.
2. Sebuah keyakinan kuat, dan penerimaan terhadap nilai-nilai dan tujuan
organisasi.
3. Kesiapan untuk mengerahkan upaya yang cukup besar untuk kepentingan
organisasi
Salancik (Armstrong, 2006) mengatakan: 'Komitmen adalah suatu keadaan dengan mana seorang individu
menjadi terikat olehnya melalui tindakan dengan keyakinan sehingga ia bertahan
untuk beraktifitas dan terlibat didalamnya. Tiga fitur dari perilaku yang penting
dalam mengikat individu untuk tindakan mereka yaitu: visibilitas tindakan,
sampai sejauh mana hasil yang tidak dapat dibatalkan, dan sejauh mana orang
tersebut melakukan tindakan secara sukarela. Komitmen
dapat ditingkatkan dan dimanfaatkan untuk mendapatkan dukungan dengan tujuan
dan kepentingan organisasi melalui cara-cara seperti partisipasi dalam
pengambilan keputusan.
B.
Dimensi Komitmen Organisasi
Tiga dimensi komitmen organisasi, yang oleh Meyer dan Allen (1990) lebih
memilih untuk menggunakan istilah komponen komitmen organisasi daripada tipe
komitmen organisasi karena hubungan karyawan dengan organisasinya dapat
bervariasi dalam komponen tersebut. Selain itu, setiap komponen komitmen
berkembang sebagai hasil dari pengalaman yang berbeda serta memiliki implikasi
yang berbeda pula. Misalnya, seorang karyawan secara bersamaan dapat merasa
terikat dengan organisasi dan juga merasa wajib untuk bertahan dalam
organisasi. Sementara itu, karyawan lain dapat menikmati bekerja dalam
organisasi sekaligus menyadari bahwa ia lebih baik bertahan dalam organisasi
karena situasi ekonomi yang tidak menentu. Namun karyawan lain merasa ingin,
butuh, dan juga wajib untuk terus bekerja dalam organisasi. Dengan demikian,
pengukuran komitmen organisasi juga seharusnya merefleksikan ketiga komponen
komitmen tersebut Meyer dan Allen (1993), yaitu: komitmen afektif (affective commitment), komitmen
kontinuans (continuance commitment),
dan komitmen normatif (normative
commitment). Hal yang umum dari ketiga dimensi komitmen ini adalah
dilihatnya komitmen sebagai kondisi psikologis yang: (1) menggambarkan hubungan
individu dengan organisasi, dan (2) mempunyai implikasi dalam keputusan untuk
meneruskan atau tidak keanggotaannya dalam organisasi. Affective Commitment (AC)
adalah suatu pendekatan emosional dari
individu dalam keterlibatannya dengan organisasi, sehingga individu akan
merasa dihubungkan dengan organisasi. Continuance Commitment (CC) adalah hasrat yang dimiliki oleh individu untuk
bertahan dalam organisasi, sehingga individu merasa membutuhkan untuk
dihubungkan dengan organisasi. Normative
Commitment (NC) adalah suatu perasaan wajib dari individu untuk
bertahan dalam organisasi.
Pendapat Meyer dan Allen (1993) ini sering digunakan oleh para peneliti
di bidang Ilmu Perilaku Organisasi dan Ilmu Psikologi. Bahwa komitmen
organisasional sebagai sebuah keadaan psikologi yang mengkarakteristikkan
hubungan karyawan dengan organisasi atau implikasinya yang mempengaruhi apakah
karyawan akan tetap bertahan dalam organisasi atau tidak, yang teridentifikasi
dalam tiga komponen yaitu:
a. Komitmen afektif (affective
commitment), mengarah pada the
employee's emotional attachment to, identification with, and involvement in the
organization. Ini berarti, komitmen afektif berkaitan dengan keterikatan
emosional karyawan, identifikasi karyawan pada, dan keterlibatan karyawan pada
organisasi. Dengan demikian, karyawan yang memiliki komitmen afektif yang kuat
akan terus bekerja dalam organisasi karena mereka memang ingin (want to) melakukan hal tersebut. Dengan
kata lain, keterlibatan emosional seseorang pada organisasinya berupa perasan
cinta pada organisasi.
Komitmen afektif merupakan ikatan secara emosional yang melekat pada
seorang karyawan untuk mengidentifikasikan dan melibatkan dirinya dengan
organisasi. Komitmen afektif ini juga dapat dikatakan sebagai penentu yang
penting atas dedikasi dan loyalitas seorang karyawan. Kecenderungan seorang karyawan
yang memiliki komitmen afektif yang tinggi, dapat menunjukkan rasa memiliki
atas perusahaan, meningkatnya keterlibatan dalam aktivitas organisasi,
keinginan untuk mencapai tujuan organisasi, dan keinginan untuk dapat tetap
bertahan dalam organisasi (Rhoades, Eisenberger, & Armeli, 2001).
b. Komitmen kontinyu (continuance
commitment), berkaitan dengan an awareness of the costs associated
with leaving the organization. Komitmen kontinyu berkaitan dengan persepsi
seseorang atas biaya dan resiko dengan meninggalkan organisasi saat ini.
Artinya, terdapat dua aspek pada komitmen kontinyu, yaitu: melibatkan
pengorbanan pribadi apabila meninggalkan organisasi dan ketiadaan alternatif
yang tersedia bagi orang tersebut. Hal ini menunjukkan adanya pertimbangan untung
rugi dalam diri karyawan berkaitan dengan keinginan untuk tetap bekerja atau
justru meninggalkan organisasi. Komitmen kontinuans sejalan dengan pendapat
Becker yaitu bahwa komitmen kontinuans adalah kesadaran akan ketidakmungkinan
memilih identitas sosial lain ataupun alternatif tingkah laku lain karena
adanya ancaman akan kerugian besar. Karyawan yang terutama bekerja berdasarkan
komitmen kontinuans ini bertahan dalam organisasi karena mereka butuh (need to) melakukan hal tersebut karena
tidak adanya pilihan lain.
c. Komitmen normatif (normative commitment), merefleksikan a feeling of obligation to continue
employment. Komitmen normatif merupakan sebuah dimensi moral yang
didasarkan pada perasaan wajib dan tanggung jawab pada organisasi yang
mempekerjakannya. Dengan kata lain, komitmen normatif berkaitan dengan perasaan
wajib untuk tetap bekerja dalam organisasi. Ini berarti, karyawan yang memiliki
komitmen normatif yang tinggi merasa bahwa mereka wajib (ought to) bertahan dalam organisasi. Wiener (dalam Meyer dan Allen,
1990) mendefinisikan komponen komitmen ini sebagai tekanan normatif yang
terinternalisasi secara keseluruhan untuk bertingkah laku tertentu sehingga
memenuhi tujuan dan minat organisasi. Oleh karena itu, tingkah laku karyawan
didasari pada adanya keyakinan tentang “apa yang benar” serta berkaitan dengan
masalah moral.
Secara umum, riset yang berkaitan dengan para karyawan yang memiliki
komitmen afektif yang kuat akan tetap tinggal bersama organisasi dikarenakan
mereka ingin tinggal (because they want
to). Para karyawan yang memiliki komitmen kontinyu yang kuat dikarenakan
mereka harus tinggal bersama organisasi (because
they have to). Dan para karyawan yang memiliki komitmen normative yang kuat dikarenakan mereka
merasa bahwa mereka harus tinggal bersama (because
they fell that they have to).
Cut Zurnali (2010) mendefinisikan masing-masing dimensi komitmen
organisasional tersebut sebagai berikut:
1) Komitmen afektif (affective
commitment) adalah perasaaan cinta pada organisasi yang memunculkan kemauan
untuk tetap tinggal dan membina hubungan sosial serta menghargai nilai hubungan
dengan organisasi dikarenakan telah menjadi anggota organisasi.
2) Komitmen kontinyu (continuance
commitment) adalah perasaan berat untuk meninggalkan organisasi dikarenakan
kebutuhan untuk bertahan dengan pertimbangan biaya apabila meninggalkan
organisasi dan penghargaan yang berkenaan dengan partisipasi di dalam
organisasi.
3) Komitmen normatif (normative
commitment) adalah perasaan yang mengharuskan untuk bertahan dalam organisasi
dikarenakan kewajiban dan tanggung jawab terhadap organisasi yang didasari atas
pertimbangan norma, nilai dan keyakinan karyawan
Miner (1998) mengemukakan secara konseptual, komitmen
dapat dikarakteristikan setidak-tidaknya dalam tiga hal, yaitu:
1) Keyakinan kuat dalam penerimaan tujuan dan nilai-nilai
organisasi,
2) Keinginan untuk memperluas usaha-usaha dalam perilaku
di organisasi dan
3) Keinginan kuat untuk mempertahankan keanggotaan dalam
organisasi. Komitmen berbeda dengan loyalitas. Komitmen lebih menunjukkan
kontribusi aktifi dibandingkan dengan loyalitas.
Tiga dimensi komitmen organisasional menurut Robbins
dan Judge (2015) adalah :
1) Komitmen Afektif (Affective
Commitment) yaitu perasaan emosional untuk organisasi dan keyakinan dalam
nilai-nilainya.
2) Komitmen berkelanjutan (continuance commitment) yaitu nilai ekonomi yang dirasa dari
bertahan dalam suatu organisasi bila dibandingkan dengan meninggalkan
organisasi tersebut. Seorang karyawan mungkin berkomitmen kepada seorang
pemberi kerja karena ia dibayar tinggi dan merasa bahwa pengunduran diri dari
perusahaan akan menghancurkan keluarganya.
3) Komitmen normatif (normative
commitment) yaitu kewajiban untuk bertahan dalam organisasi untuk
alasan-alasan moral atau etis. Seseorang akan bertahan dengan seorang pemberi
kerja karena ia merasa meninggalkan seseorang dalam keadaan yang sulit bila ia
pergi
Ada tiga aspek komitmen: (1) komitmen organisasi
afektif, (2) komitmen organisasi keberlanjutan, dan (3) komitmen organisasi
normatif (J.P.Meyer and N.J.Allen (Eliyana et
al., 2012)). Dari tiga pendekatan tersebut, kita bisa melihat komitmen
sebagai kondisi psikologis yang mencirikan hubungan antara karyawan dan
organisasi dan memiliki implikasi terhadap keputusan individu untuk bertahan
atau meninggalkan organisasi. Namun, sifat dari kondisi psikologis untuk setiap
bentuk komitmen berbeda-beda. Karyawan dengan komitmen afektif yang kuat akan
tetap berada dalam organisasi karena keiginan mereka; karyawan dengan komitmen
berkelanjutan yang kuat akan tetap dalam organisasi karena keperluan mereka,
sementara karyawan yang memiliki komitmen normatif yang kuat tetap dalam
organisasi karena suatu keharusan (N.J.Allen and J.P.Meyer (Eliyana et al., 2012).
Steers (1988) mengelompokkan komitmen organisasi
menjadi tiga faktor:
1) Identifikasi dengan organisasi yaitu penerimaan tujuan
organisasi, dimana penerimaan ini merupakan dasar komitmen organisasi.
Identifikasi pegawai tampak melalui sikap menyetujui kebijaksanaan organisasi,
kesamaan nilai pribadi dan nilai-nilai organisasi, rasa kebanggaan menjadi
bagian dari organisasi.
2) Keterlibatan yaitu adanya kesediaan untuk berusaha
sungguh-sungguh pada organisasi. Keterlibatan sesuai peran dan tanggungjawab
pekerjaan di organisasi tersebut. Pegawai yang memiliki komitmen tinggi akan
menerima hampir semua tugas dan tanggungjawab pekerjaan yang diberikan padanya.
3) Loyalitas yaitu adanya keinginan yang kuat untuk
menjaga keanggotaan di dalam organisasi. Loyalitas terhadap organisasi
merupakan evaluasi terhadap komitmen, serta adanya ikatan emosional dan
keterikatan antara organisasi dengan pegawai. Pegawai dengan komitmen tinggi
merasakan adanya loyalitas dan rasa memiliki terhadap organisasi.
Komitmen Afektif (Berbasis Emosi). Salah satu cara untuk memahami
perbedaan antara ketiga jenis komitmen adalah bertanya pada diri sendiri
mengenai apa yang akan Anda rasakan jika Anda meninggalkan organisasi. Karyawan
yang merasakan komitmen afektif dengan organisasi, akan menerima tujuan dan
nilai-nilai yang organisasi, dan bersedia untuk mengerahkan usaha ekstra atas
nama organisasi. Komitmen Keberlanjutan (Berbasis Biaya), komitmen kontinyu
terjadi ketika ada keuntungan yang terkait dengan tinggal dan biaya yang
terkait jika meninggalkan, dengan komitmen keberlanjutan tinggi sehingga sulit
untuk mengubah organisasi karena denda yang terkait jika pindah. Salah satu
faktor yang dapat meningkatkan komitmen kontinyu adalah jumlah total investasi
(dari segi waktu, tenaga, energi,) karyawan telah dibuat dalam menguasai peran
pekerjaan mereka atau memenuhi tugas organisasi mereka. Komitmen Normatif
(Berbasis Kewajiban) komitmen normatif ada ketika ada rasa yang tinggal.
Artinya bahwa orang harus tinggal dengan majikan mereka saat ini mungkin akibat
dari filosofi kerja pribadi. Mereka dapat ditentukan oleh pengalaman awal dalam
perusahaan, jika karyawan disosialisasikan untuk mempercayai bahwa loyalitas jangka panjang adalah norma.
Kanter (Miroshnik, 2013) mengusulkan tiga jenis komitmen, yaitu:
1) Sacrifice and investment support
continuance (pengorbanan dan dukungan investasi
keberlanjutan)
2) Renunciation and communion support
cohesion (Penolakan dan dukungan keterpaduan persekutuan)
3) Mortification and surrender support
control (Sakit hati dan dukungan kontrol melepaskan diri)
Mowday, et. al (Stroh & Gregory B. Northcraft, 2002) menyarankan sejumlah faktor yang
dapat meningkatkan tingkat komitmen, yaitu:
1) Faktor Pribadi. Kecenderungan karyawan untuk mengembangkan keterikatan
yang stabil untuk organisasi.
2) Faktor Organisasi. Karakteristik organisasi seperti kepedulian terhadap
kepentingan karyawan atau kepemilikan karyawan
3) Faktor nonorganizational utama yang meningkatkan komitmen adalah
ketersediaan alternatif setelah pilihan awal untuk bergabung dengan organisasi.
Komitmen akan terjadi apabila karyawan
(a) memiliki justifikasi eksternal cukup untuk pilihan awal mereka dan (b)
pandangan pilihan sebagai relatif tidak dapat dibatalkan; yaitu, mereka percaya
bahwa mereka tidak memiliki kesempatan berikutnya yang akan menjamin mereka
mengubah pikiran mereka.
Menurut (McShane & Von
Glinow, 2008), cara untuk membangun loyalitas organisasi, yaitu:
1) Keadilan dan dukungan. Komitmen afektif akan lebih tinggi dalam suatu
organisasi yang memenuhi kewajiban mereka kepada karyawan dan mematuhi
nilai-nilai kemanusiaan, seperti keadilan, kesopanan, pengampunan, dan
integritas moral. Nilai-nilai ini berhubungan dengan konsep keadilan
organisasi. Demikian pula, organisasi yang mendukung kesejahteraan karyawan
cenderung menumbuhkan tingkat loyalitas yang lebih tinggi dengan imbalan
2) Nilai-nilai bersama. Definisi
komitmen afektif mengacu pada identifikasi seseorang bersama organisasi, dan
identifikasi yang paling tinggi jika para karyawan percaya bahwa nilai-nilai
mereka adalah sama dan sebangun bersama nilai-nilai yang dominan dalam
organisasi. Juga, para karyawan mengalami kenyamanan lebih dan prediktabilitas
ketika mereka setuju dengan nilai-nilai yang mendasari keputusan perusahaan.
Kenyamanan ini meningkatkan motivasi mereka untuk tinggal dengan organisasi.
3) Kepercayaan. Kepercayaan mengacu
pada harapan positif seseorang terhadap orang lain dalam situasi yang
melibatkan risiko. Ini merupakan kegiatan timbal balik: Untuk menerima
kepercayaan, Anda harus menunjukkan kepercayaan. Karyawan mengetahui bersama
dan merasa berkewajiban untuk bekerja pada sebuah organisasi hanya ketika
mereka percaya para pemimpinnya. Hal ini menjelaskan mengapa pemutusan hubungan
kerja adalah salah satu pukulan terbesar bagi loyalitas karyawan, dengan
mengurangi keamanan kerja, perusahaan mengurangi kepercayaan karyawan dan hubungan
kerja.
4) Pemahaman organisasi. komitmen
afektif adalah identifikasi seseorang dengan perusahaan, sehingga masuk akal
bahwa sikap ini diperkuat ketika para karyawan memahami perusahaan, termasuk
masa lalu, sekarang, dan masa depan. Dengan demikian loyalitas cenderung
meningkat bersama komunikasi terbuka dan cepat ke dan dari pemimpin perusahaan,
serta kesempatan untuk berinteraksi dengan rekan kerja di seluruh organisasi
5) Keterlibatan karyawan. Keterlibatan
karyawan meningkatkan komitmen afektif dengan memperkuat identitas sosial
karyawan dengan organisasi. Karyawan merasa bahwa mereka adalah bagian dari
organisasi ketika mereka mengambil bagian dalam keputusan yang memandu masa
depan organisasi. Keterlibatan karyawan juga membangun loyalitas karena pemberian
kekuatan ini merupakan bukti kepercayaan perusahaan dengan karyawannya.
Kochan dan Dyer (Armstrong, 2006) menunjukkan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat komitmen bersama
yang di sebut komitmen perusahaan adalah sebagai berikut:
1) Tingkat Strategis:
a. Strategi bisnis yang mendukung;
b. Komitmen atas nilai manajemen;
c. Pendapat yang efektif untuk sumber daya dalam pembuatan strategi.
2) Tingkat Fungsional (kebijakan sumber daya manusia):
d. Staffing berdasarkan stabilisasi kerja;
e. Investasi dalam pelatihan dan pengembangan;
f.
Kompensasi kontijensi yang memperkuat
kerjasama, partisipasi dan kontribusi.
3) Tingkat Kerja:
a. Pilihan berdasarkan standar yang tinggi
b. Desain tugas yang luas dan kerja sama tim
c. Keterlibatan karyawan dalam pemecahan masalah
d. Iklim kerjasama dan kepercayaan
Sedangkan Menurut
(John R. Schermerhorn, 2007) dua dimensi utama untuk komitmen organisasi yaitu: 1) Komitmen rasional
mencerminkan perasaan bahwa pekerjaan menyajikan keuangan, perkembangan,
kepentingan profesional seseorang. 2) Komitmen emosional mencerminkan perasaan
bahwa apa yang dilakukannya adalah penting, berharga, dan bermanfaat nyata
kepada orang lain. Buktinya adalah bahwa komitmen emosional yang kuat untuk
organisasi, berdasarkan nilai-nilai dan kepentingan orang lain, adalah sebanyak
empat kali lebih kuat dalam mempengaruhi kinerja secara positif daripada
komitmen rasional, terutama didasarkan pada gaji dan kepentingan diri.
Dalam organisasi sektor publik, Balfour and Wechsler (1996) merumuskan bahwa
komitmen organisasional terdiri dari: identifikasi, afiliasi, dan pertukaran.
1) Komitmen
identifikasi merupakan komitmen organisasional terkait dengan proses karyawan
mengidentifikasikan diri dengan misi dan tujuan organsasi. Dimensi komitmen ini
berupa perasaan senang bergabung pada organisasi, meskipun perasaan ini berawal
dari pandangan publik bahwa bergabung dengan organisasi publik adalah sebuah
kehormatan. Lebih jauh, Balfour and Wechsler (1996) memperluas definisi
komitmen identifikasi dengan memasukkan faktor perasaan karyawan pada misi,
tujuan, dan pencapaian organisasi.
2) Komitmen afiliasi
merupakan presepsi karyawan tentang perhatian dan kepemilikan. Afiliasi
diderivasikan dari perasaan karyawan bahwa anggota lain dari organisasi
tersebut memiliki perhatian (care)
terhadap individu. Selain itu, komitmen afiliasi muncul karena rasa kepemilikan
dan kebersamaan yang dimiliki bersama-sama. Rasa kepemilikan bertransformasi
pada rasa kepemilikan pada organisasi. Dengan kata lain, komitmen afiliasi
dipengaruhi keterkaitan psikologis karyawan pada relasi sosial yang telah
terbentuk di dalam organisasi (Balfour and Wechsler, 1990).
3) Komitmen
pertukaran mengacu pada keterikatan psikologis karyawan akibat hubungan resiprokal
(simbiosis mutualisme) antara individu dan organsiasi. Hubungan resiprokal ini
berkaitan dengan keberadaan kompensasi moneter maupun non-moneter. Meskipun
keberadaan kompensasi moneter pada penelitian sebelumnya (O’Reilly and Chatman,
1986; Padma and Nair, 2009) memiliki hubungan yang lemah pada komitmen
organisasional, hasil penelitian Balfour and Wechsler (1996) justru menganggap
penting adanya jenis komitmen ini. Keterikatan psikologis yang berbasis
pertukaran akan menguat bersamaan dengan pengakuan kontribusi karyawan kepada
organisasi, ketersediaan dukungan, dan dorongan positif organisasional.
Untuk mengukur konstruk komitmen, Porter dan rekan-rekannya
mengembangkan Kuesioner Komitmen Organisasi (OCQ) (Mowday et, al., (Meyer & Allen, 1990).
Meyer dan Allen (Miroshnik, 2013) mengembangkan kuesioner alternatif untuk mengukur komitmen kontinyu.
Skala mereka terdiri dari delapan item yang mencerminkan biaya yang dirasakan
terkait jika meninggalkan organisasi; biaya terkait dengan segi kerugian
pribadi atau pengorbanan dan kurangnya alternatif yang sebanding.
Instrumen yang dikembangkan oleh O'Reilly dan
Chatman (Miroshnik, 2013) adalah untuk mengidentifikasi: Kepatuhan,
Identifikasi, dan skala internalisasi. Tiga dimensi komitmen organisasi
(komitmen afektif, komitmen normatif dan komitmen kontinyu) dinilai oleh (Meyer, Allen,
& Smith, 1993).
Dengan menggunakan enam item untuk Komitmen Afektif yaitu: (Saya akan sangat senang untuk menghabiskan
sisa karir saya dengan organisasi ini; saya benar-benar merasa seolah-olah
masalah organisasi ini adalah masalah saya sendiri; Saya tidak merasakan
perasaan memiliki yang kuat untuk
organisasi saya. Saya tidak merasa emosional untuk organisasi ini. Saya tidak
merasa seperti bagian dari keluarga di organisasi saya. Organisasi ini memiliki
banyak makna pribadi bagi saya).
Komitmen
normatif meliputi enam item, yaitu: (Saya
tidak merasa kewajiban apapun untuk tetap dengan atasan saya saat ini; Bahkan
jika itu untuk keuntungan saya, saya tidak merasa itu akan tepat untuk
meninggalkan organisasi saya sekarang; Saya akan merasa bersalah jika saya
meninggalkan organisasi saya sekarang; Organisasi ini layak untuk kesetiaan
saya; Saya tidak akan meninggalkan organisasi saya sekarang karena saya
memiliki rasa kewajiban untuk orang-orang di dalamnya; Saya berutang banyak
kepada organisasi saya). K
omitmen kelanjutan berisi enam item, yaitu; (Sekarang, tinggal dengan organisasi saya
adalah persoalan kebutuhan sesuai banyaknya keinginan; akan sangat sulit bagi
saya untuk meninggalkan organisasi saya sekarang, kalaupun saya ingin; terlalu
banyak hidup saya akan terganggu jika saya memutuskan ingin meninggalkan
organisasi saya sekarang; saya merasa bahwa saya memiliki terlalu sedikit
pilihan untuk mempertimbangkan meninggalkan organisasi ini; jika saya sudah
tidak memberi begitu banyak ke dalam organisasi ini, mungkin akan saya
pertimbangkan bekerja di tempat lain; salah satu konsekuensi negatif jika
meninggalkan organisasi ini adalah adanya kelangkaan alternatif pekerjaan yang
tersedia).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar